Senin, 20 Oktober 2014

Ini Alasan Pemkab Pangandaran Bersikukuh Klaim Ronggeng Gunung

              
Pangandaran, (harapanrakyat.com),-
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga (Disdikpora), Kabupaten Pangandaran, DR. Erik Krisna Yuda, mengatakan, dari uraian sejarah Ronggeng Gunung, diketahui seni tari ini berasal dari cerita rakyat Kerajaan Pananjung yang berdiri di daerah Pangandaran.
Menurut Erik, tokoh yang memperkenalkan seni tari Ronggeng Gunung ini adalah Dewi Rengganis bersama Bajo Kala. Dan kedua tokoh itu adalah petinggi Kerajaan Pananjung.
Setelah memastikan bahwa Ronggeng Gunung merupakan seni budaya asli Pangandaran, lanjut Erik, pihaknya kemudian mengajukan ke Pemprov Jabar pada tahun 2013 lalu untuk meminta Ronggeng Gunung ditetapkan sebagai seni tradisional asli Kabupaten Pangandaran.
Erik pun mengakui bahwa seni tari Ronggeng Gunung dipopulerkan oleh maestro Nyi Raspi, yang kini berdomisili di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. “Kalau ada daerah lain yang mau mengembangkan seni tari Ronggeng Gunung silahkan saja, toh mereka pada tahu sejarahnya Ronggeng Gunung itu berasal dari Kerajaan Pananjung Pangandaran,” tegasnya.
Erik juga mengatakan, pihaknya saat ini tegah fokus mengembangkan dan melestarikan seni tari Ronggeng Gunung dengan cara memperkenalkan sejak dini kepada genarasi muda di Pangandaran. Pengenalan seni tari itu akan dimasukan ke dalam kurikulum muatan lokal dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat SMA/SMK.
“Apa jadinya kalo tradisi ini tidak dikembangkan oleh orang Pangandaran sendiri. Jika tidak dikembangkan, bisa jadi seni tari Ronggeng Gunung ini malah lebih maju di daerah lain, ketimbang di Pangandaran sendiri,” ujarnya.
Erik menegaskan, pihaknya tidak mau memusingkan persoalan saling klaim antara dua daerah terhadap Ronggong Gunung. Pihaknya, lanjut dia, lebih baik fokus pada pelestarian pengembangan seni tradisional Ronggeng Gunung di masyarakat Pangandaran.
“Masalah saling klaim, solusinya sederhana saja, tinggal buka lembaran sejarah kemudian telaah dari mana awal munculnya seni tari Ronggeng Gunung ini. Yang pasti, kita tidak akan meributkan, karena toh akhirnya pelaku Ronggeng Gunung akan mengatakan kalau seni tradisional ini berasal dari Kerajaan Pananjung Pangandaran,” tandasnya. (Mad/Koran-HR)

MEMPERKENALKAN TARI ANAK


 
Bagaimana teknik memperkenalkan tari pada anak yang tepat, sehingga anak tidak jenuh untuk mempelajarinya . Hal ini harus kita pahami secara utuh apa tari itu, bagaimana menari itu, untuk siapa tarian itu, dan di mana kita menari.
Empat hal inilah sebagai dasar untuk pengenalan tari kepada anak. Pemahaman awal sangat perlu, sehingga tari tidak hanya dianggap sebagai
keterampilan ansich. Anggapan sementara pihak yang mengatakan bahwa pelajaran tari hanya sebagai pelajaran praktek tidak beralasan, karena kenyataan tari juga memiliki latar belakang sejarah yang sangat kompleks terkait dengan perjalanan budaya suatu bangsa. Namun yang lebih penting guru harus mampu menunjukkan bahwa tari adalah salah satu sumber pendidikan yang efektif diterapkan untuk anak.
Pelajaran tari bukan bertujuan untuk mempelajari sikap gerak saja, namun juga sikap mental, kedisiplinan, sehingga pendidikan tari itu menjadi media pendidikan.
Dalam bukunya tentang Pendidikan Ki Hadjar Dewantara menyebutkan bahwa tari anak-anak akan memberi pengaruh terhadap ketajaman pikiran, kehalusan rasa dan kekuatan kemauan serta memperkuat rasa kemerdekaan. Rudolph Steiner menyebut bahwa pengaruh ritme atau wiromo dalam iringan tari akan dapat digunakan sebagai media untuk mencapai budipekerti yang harmonis.
Dari dasar-dasar tersebut dapat ditunjukkan bahwa pendidikan tari adalah sarana bagi usaha pembentukan pribadi anak. Hal ini mengingat usia anak-anak di tingkat Sekolah Dasar secara umum haus akan ekspresi, hal ini harus disalurkan dalam pendidikan kesenian, sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam penuangan ekspresi ketika anak SD itu menginjak sekolah lanjut. Di sinilah pentingnya pelajaran kesenian dipahami sebagai salah satu kebutuhan hidup manusia.
Guru (SD) dalam hal ini memiliki peran sangat vital untuk membentengi atau membuat filterisasi pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Seni sebagai bagian dari isi kebudayaan merupakan ungkapan ekspresi jiwa dari pelakunya, terbukti mampu mengakumulasikan beberapa keteladanan yang dituangkan dalam makna-makna simbolis lewat berbagai medium, salah satunya adalah gerak.
Untuk memahami seni secara utuh tidak dapat lepas dari faktor-faktor pendukung yang akan membentuk karakteristik seni itu sendiri. Ungkapan ekspresi yang ada dalam seni secara umum akan terkait dengan tingkat
emosional dari pembuat ataupun pelakunya. Oleh sebab itu akan sangat berbahaya jika memberikan materi seni kepada anak tidak mempertimbangkan faktor psikologis dan tingkat perkembangan emosional anak.

III. Materi Gerak Dasar Tari untuk Anak
Sebelum membicarakan materi gerak dasar tari untuk anak, perlu kiranya diketahui lebih dulu tujuan tari itu diberikan kepada anak, sehingga visi dan misi pembelajaran tari kepada anak dapat tercapai.
Umum:
  1.  Penanaman dan pemupukan jiwa berkebudayaan nasional dalamarti luas.
  2. Penanaman dan pengembangan rasa estetis kepada murid
  3.  Memberi bimbingan kemampuan anak mengungkapkan rasa estetisnya
  4. Tercapainya ketajaman cipta, halusnya rasa, kuatnya kemauan serta kemerdekaan jiwa.
Khusus:
  1.  Memberi tempat penyaluran ekspresi gerak
  2.  Membina apresiasi seni
  3.  Memberi kecakapan dasar-dasar gerak tari
Dari tujuan tersebut jelas bahwa tujuan mempelajari gerak tari bukan merupakan prioritas utama. Namun yang lebih penting adalah aspek di balik pelajaran tari kaitannya dengan masalah budi pekeri dan perilaku anak.
Untuk itulah anak jangan dipaksakan menerima materi yang tidak sesuai dengan tingkat usia yang dimiliki. Hal ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis anak dalam menapak masa depan. tari dalam tataran ini harus mampu merangsang dan mengembangkan imajinasi serta memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu (Murgiyanto, 1993: 22)
Materi tari untuk anak dapat kita klasifikasikan sebagai berikut:

1. Tari yang disusun berdasarkan permainan anak keseharian (dolanan)
2. Tari yang disusun atas dasar teks lagu
3. Tari yang disusun atas dasar lagu
4. Imitasi gerak dalam kehidupan sehari-hari
(Empat tahapan tersebut untuk kelas I s/d III SD)

5. Imitasi tari tradisional
6. Tari tradisional yang disesuaikan dengan jiwa anak
7. Tari tradisional yang disesuaikan dengan kemampuan anak

(Kategori ini lebih tepat untuk kelas IV s/d VI SD).
Bagaimana mengajarkan tari untuk anak yang efektif ? Kita perlu memahami pembatasan kelas dan usia anak. Ini sangat perlu diketahui. Untuk memberikan materi kelas I s/d III kita dapat menerapkan sistem pelajaran imitasi (menirukan) gerak bebas dengan mengutamakan ketepatan irama. Baru kemudian menirukan gerak dengan ketepatan gerak. Dan terakhir adalah improvisasi secara bebas.
Untuk kelas IV s/d VI, secara umum metode di atas dapat diterapkan, namun dengan penekanan pada unsur kualitas gerak.